Analisis Laporan Keuangan Perusahaan

Posted on Januari 6, 2011

0


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

ANALISIS HORISONTAL

Analisis horizontal menunjukkan arah perubahan dari suatu pos laporan keuangan tertentu. Analisis persentase yang membandingkan suatu pos laporan keuangan dengan pos sama laporan keuangan sebelumnya disebut analisis horizontal. Dalam PT. Unilever analisis horizontal dapat dilihat dalam gambar 1 dan 2. Analisis ini menggunakan 2007 sebagai tahun dasar. Kenaikan penjualan bersih, misalnya dihitung sebagai berikut:

Dari analisis neraca diatas dapat dilihat bahwa:

1.           Aktiva lancar naik 19% dan kewajiban lancar juga naik 48%

2.           Aktiva tidak lancar naik 31% dan kewajiban tidak lancar naik 38%. Modal naik 13%.

3.            Secara keseluruhan aktiva naik 31%, kewajiban naik 47%, dan modal naik 13%

Interpretasi

PT. Unilever tampaknya melakukan ekspansi (penambahan aktiva tetap) yang dibiayai dengan kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang dan dari setoran modal.

Analisis Laporan Laba Rugi:

1.           Penjualan naik sebesar 23% dan laba bersih juga naik sebesar 30%. 2.           Ternyata meskipun harga pokok penjualan naik sebesar 23%, dan beban usaha sebesar 19% diimbangi oleh kenaikan laba bersih.

Interpretasi

Kenaikan penjualan yang berasal dari penambahan investasi ternyata diimbangi dengan kenaikan laba bersih.

ANALISIS VERTIKAL

Dari Gambar 3 di atas,

1.           Aktiva lancar merupakan 54,36% dari total aktiva diakhir tahun 2008. persentase itu adalah 60,07% diakhir tahun 2007. Terjadi kenaikan aktiva tetap dari 39,93% diakhir tahun 2007 menjadi 45,64% diakhir tahun 2008.

2.           Sumber pembelanjaan yang berasal dari kewajiban lancar dan jangka panjang naik 53,3% di akhir tahun 2007 menjadi 59,76% di akhir tahun 2008. akibatnya sumber dari pemilik menurun dari 26,64% diakhir tahun 2007 menjadi 40,15% di akhir tahun 2008. Sementara itu, kewaiban lancar merupakan 56,12% dari total kewajiban dan modal pada akhir tahun 2008. Angka itu adalah 53,30 pada akhir tahun 2007. Untuk kewajiban jangka panjang persentase itu adalah 3,64% di akhir tahun 2008 dan 3,44 % di akhir tahun 2007.

Interpretasi

Dari pengamatan tersebut di atas, dapat dilihat bahwa kesimpulan yang diperoleh pada waktu melakukan analisis horizontal didukung oleh kesimpulan analisis vertical. Selama tahun 2008 PT. Unilever dan anak perusahaan melakukan penambahan aktiva tetap yang dibiayai oleh kewajiban lancar dan jangka panjang.

ANALISIS NISBAH
Terlihat bahwa nisbah lancer PT. Unilever dan anak perusahaannya pada tahun 2008 turun dibandingkan dengan tahun 2007. Penurunan ini menunjukkan kemampuan perusahaaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya juga menurun.

MODAL KERJA

Modal kerja = aktiva lancar – kewajiban lancar

Modal kerja (2008) = Rp 3.774.193 – Rp 3.896.482 = (Rp 122.289)

Modal kerja (2008) = Rp 3.181.309 – Rp 2.640.171 = Rp 541.138


ANALISIS SOLVABILITAS

Terlihat bahwa nisbah kewajiban di akhir tahun 2008 lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Pada akhir tahun 2008, 59,76% aktiva perusahaan dibelanjai oleh pinjaman, sementara pada tahun 2007 hanya 53,3%. Kenaikan angka nisbah ini menunjukkan makin besarnya sumber pembelanjaan yang berasal dari pinjaman. Dengan demikian, batas pengaman bagi kreditur makin rendah. Kemampuan PT. Unilever dan anak perusahaan untuk melunasi kewajibannya juga akan makin rendah.

Nisbah Aktiva tetap terhadap kewajiban jangka panjang.

Terlihat bahwa nilai aktiva tetap neto PT Unilever 6,27 kali kewajiban jangka panjangnya, proporsi pembelanjaan jangka panjangnya makin kecil. Dari sudut ini menunjukkan posisi keuangan perusahaan yang membaik. Namun kenaikan ektiva tetap tersebut dibelanjai oleh kewajiban jangka pendek dan jangka panjang. Jelas bahwa kenaikan lewajiban lancar dan jangka panjang digunakan untu memperoleh aktiva tetap.

ANALISIS AKTIVITAS

Kenaikan margin laba dari 17% menjadi 17,9% dalam tahun 2008 menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan menghasilkan laba telah meningkat.